Yogyakarta (Garakat) — Salib bukan sekadar simbol iman. Di dalamnya ada kisah tentang pengorbanan, keteguhan, harapan, dan kasih yang menguatkan manusia dalam menghadapi perjalanan hidup.
Pesan itulah yang disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Kristoforus Moses Jamwav, saat memberikan pembinaan iman bagi para lansia Kristiani di UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar (RPSLUT) Budhi Dharma Kota Yogyakarta, Senin (14/9/2026).
Mengangkat inspirasi dari Injil Yohanes 3:13-17, Moses mengajak para lansia untuk tidak hanya memandang salib sebagai lambang kekristenan, tetapi juga menghayati makna pengorbanan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengaitkan bacaan Injil tersebut dengan kisah dalam Kitab Bilangan 21:4-9 tentang bangsa Israel yang mengalami perjalanan panjang setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir.
Dalam perjalanan itu, bangsa Israel mengeluh kepada Allah dan Musa. Mereka kemudian digigit ular tedung dan banyak yang meninggal. Atas perintah Allah, Musa membuat ular tembaga dan memasangnya pada sebuah tiang. Mereka yang terkena gigitan ular dan memandang ular tembaga tersebut tetap hidup.
“Bacaan Injil Yohanes hari ini menyatakan bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal,” tutur Moses.
Menurutnya, salib mengingatkan umat Kristiani kepada Kristus sekaligus mengajak setiap orang untuk berani menjalani dan memaknai berbagai pergumulan kehidupan.
“Dengan penghormatan kepada salib, kita pun sampai pada Kristus. Marilah kita berani memanggul salib dan kita satukan dengan salib Kristus agar kelak kita dapat bersama Kristus,” tegasnya.
Pembinaan iman berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh kebersamaan. Kegiatan dikemas dalam bentuk Ibadat Sabda, diawali dengan lagu pembuka, pembacaan Kitab Suci, renungan, berbagi pengalaman iman, serta doa-doa lainnya.
Bagi para lansia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam iman, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman hidup dan saling menguatkan.
Sebanyak 14 peserta mengikuti pembinaan iman tersebut. Mereka terdiri atas tujuh lansia Kristiani, satu Penyuluh Agama Kristen Sumarni, empat Penyuluh Agama Katolik yakni F.M. Padhari Djati Martiwi, Arnoldus Suluh Dwi Candra, Edelbertus Jara, dan Kristoforus Moses Jamwav, satu pemerhati lansia Unang, serta satu peserta magang di UPT RPSLUT Budhi Dharma.
Melalui pendampingan yang dekat dan penuh perhatian, Penyuluh Agama Katolik terus menghadirkan pembinaan iman yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi menyentuh pengalaman nyata umat. Sebab dalam setiap usia dan setiap perjalanan hidup, iman tetap dapat menjadi sumber kekuatan, pengharapan, dan penghiburan.(asdc)

